lis...
entah setan apa yang berkelebat masuk,
menggelitik ruang hampa,
tiba-tiba sakit menusuk senyum
aku tak tahu dari mana arah serangan
bayangmu berkelebat,
aku pikir hanya bayang-bayang imajiku...
yang membentuk asap ragamu,
ooh... tidak ini boneka imajiner ciptaanku.
lis...
kau tahu, seperti apa aku sekarang?
ah... sudahlah itu tak ada untungnya buatmu...
lis...
detik ini, aku bercumbu dengan imajinermu,
merinding, saat kau bilang "cukup kita yang tahu",
dan apa jawabku... aku hanya mengangguk setuju,
entah mengapa tubuhku meringan,
aku dan kamu makin melayang,
tiba-tiba palu godam menghantam bayang...
lis...
mengapa nin ada dipelukmu...
apa kau mengujiku?
tak perlu ragu, untuk saat ini aku sayang kamu,
lis ... mengapa kau mengulum nin dengan cara yang sama seperti mengulumku,
dan haruskah nin menggigit lehermu...
lis... kau tahu apa yang harus aku lakukan?,
aku memaafkanmu.
nin sandiwara apa yang kau mainkan,
hatiku sakit, walau tak berdarah.
lis... aku masih mau memaafkanmu,
aku ingat pesanmu "cukup kita yang tahu"
lis... ragamu makin melarut,
menyatu dalam labirin tanpa sekat,
kau tahu?
lima bulan aku masih menunggu,
berharap kau merujuk rayu.
lis...
susah payah ku patri asa,
sudahlah, lima bulan terlalu lama bagiku untuk menunggu!
usahlah kau merenda harap,
terlalu lama rasa ini berkarat,
lis... maaf, cumbumu tak mampu menjerat!.
perlu keberanian aku tulis pengakuan ini, memang bodoh... but thank.
Jakarta, Juli 2008.
27 Feb 2009
22 Feb 2009
mati
hari ini kulihat,
suatu kosmik drama kematian,
begitu dekat dan lekat
dalam labirin kehidupan.
maut seperti bayangan,
malaikat kengerian menjamah dengan cumbuan.
suatu kosmik drama kematian,
begitu dekat dan lekat
dalam labirin kehidupan.
maut seperti bayangan,
malaikat kengerian menjamah dengan cumbuan.
ramai! lalu lalang
sunyi, seperti kuburan
dengan teriakan, membusa ludah
mata-mata, kepala-kepala
badan-badan dan semua pikiran-pikiran
bergerak dengan satu tujuan
sunyi, seperti kuburan
dengan teriakan, membusa ludah
mata-mata, kepala-kepala
badan-badan dan semua pikiran-pikiran
bergerak dengan satu tujuan
aku tak lagi acuh,
makin resah, ku peluk kelam...
kali pertama aku kehilangan akal,
teguh satu keyakinan
sebelum kematian menjemput, hidup perlu perubahan
makin resah, ku peluk kelam...
kali pertama aku kehilangan akal,
teguh satu keyakinan
sebelum kematian menjemput, hidup perlu perubahan
18 Feb 2009
Triwikrama
hirup dan rasakan
suatu aroma kematian,
nikmat dan menggiurkan,
liur menetes hingga selangkangan...
kau bilang cita rasa dunia,
ku tekankan jerit kesakitan,
benih apa yang kau sebar?
dengar lewat nuranimu,
kau dengar isakan membatu?
ambisimu menuai bencana,
asmarandana, mahalkan?
sia-sialah Gandhi memahat asa,
sadarkah kalian, bahwa Dewa iri terhadap kita!
mengapa?
karena kita fana!
tapi mengapa kita - manusia, bodoh!
menyiakan hidup dengan berebut kuasa.
suatu aroma kematian,
nikmat dan menggiurkan,
liur menetes hingga selangkangan...
kau bilang cita rasa dunia,
ku tekankan jerit kesakitan,
benih apa yang kau sebar?
dengar lewat nuranimu,
kau dengar isakan membatu?
ambisimu menuai bencana,
asmarandana, mahalkan?
sia-sialah Gandhi memahat asa,
sadarkah kalian, bahwa Dewa iri terhadap kita!
mengapa?
karena kita fana!
tapi mengapa kita - manusia, bodoh!
menyiakan hidup dengan berebut kuasa.
17 Feb 2009
Untuk Upik
laki-laki usia 40 tahun,
pagi ini tebangun dan bergegas,
rambutnya klimis, setrika baju terlihat licin,
pagi ini bergegas dengan mantap...
siang hari masih berkutat dengan rutinitas,
lupa waktu,
rambut laki-laki usia 40 tahun tidak klimis lagi,
setrikaan celana terlihat lecek,
jam makan siang telah tergesa
lapar tidak dirasa,
"aah nasi bebek ini, untuk Upik saja" gumamnya.
matahari sedikit bergeser,
sinarnya mulai bersahabat,
laki-laki usia 40 tahun sedikit sumringah...
"Istriku aku pulang, aku rindu masakanmu,
biarlah nasi bebek ini untuk Upik".
pagi ini tebangun dan bergegas,
rambutnya klimis, setrika baju terlihat licin,
pagi ini bergegas dengan mantap...
siang hari masih berkutat dengan rutinitas,
lupa waktu,
rambut laki-laki usia 40 tahun tidak klimis lagi,
setrikaan celana terlihat lecek,
jam makan siang telah tergesa
lapar tidak dirasa,
"aah nasi bebek ini, untuk Upik saja" gumamnya.
matahari sedikit bergeser,
sinarnya mulai bersahabat,
laki-laki usia 40 tahun sedikit sumringah...
"Istriku aku pulang, aku rindu masakanmu,
biarlah nasi bebek ini untuk Upik".
Langganan:
Postingan (Atom)