30 Mei 2009

award ke tiga



wahh... dapet award lagi nih, gak tau karena kebetulan halaman blog aku ijo-ijo atau gimana... jadi di daulat harus ramah lingkungan dan laen-laen, intinya loves ijo-ijo dan sebangsanya. sebenernya buat aku pribadi gak jadi masalah besar... karena ya emang aku cinta lingkungan (hehehe, bener kok gak bo'ong... walau kebiasaan merokok belum ilang yang katanya bikin polusi udara sekitar).

aku udah belajar menerapkan "hidup ramah", salah satunya yang bisa aku lakukan:
1. dengan gak pake tissue,
2. selalu matikan lampu dan air jika keluar ruangan,
3. pake kertas bekas untuk nulis catatan bahkan untuk ngeprint - kalo kertas tersebut sebelahnya masih kosong.

ok, karena ini Pe'eR... ya jadi harus bener-bener konsisten, jangan sampai apa yang ditulis atau yang di elu-elukan gak sesuai dengan realita.... ya karena tadi manusia dilihat dari sikap dan tindakannya. karena gak mau dicap/labeling sebagai manusia tukang bo'ong, maka aku akan mencoba lebih lagi mencintai lingkungan dan sejenisnya. makasih Putra Sigit, yang udah bagi-bagiin Pe'eRnya... selekasnya akan coba diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (tapi maaf ya, buat gak meroko agak berat). buat kawan-kawan yang kebetulan baca blog aku, mari kita sama-sama cintai lingkungan dan hemat energi.

25 Mei 2009

asa

: deja-vu


aku makin terperangkap dalam maya,

benci ku akui... platonik ini makin menggerogoti,

daging hidup yang bernama hati.

susah payah ku yakinkan

hentikan imajinasi!

id mengalahkan ego.

rintik yang turun malu-malu,

embun menetes dari dahan menggoda,

bahkan sinar jingga pagi

tak mampu menolong dukaku.

ku racuni paru-paru

dengan kepulan asap rokok,

berharap melayukan hati yang terjangkit platonik,

aah... tetap tak bisa,

Tuhan, tolong beri aku penawarnya.

24 Mei 2009

mawar

setangkai mawar,
dijalin begitu rupa, agar terlihat menggoda
dibungkus dengan plastik,
berhias pita
indah, harum tanpa cela.

manusia, dengan keserakahannya,
begitu rupa memuaskan nafsunya
dengan memangkas duri sang mawar,
mengamputasi dari batangnya...
sebagai pelampias berahinya.

mawar,
kau layu tak lagi elok,
parasmu tak layak sebagai symbol
dan kau, tercampakkan.

masihkah kau berani hidup?
jawabnya, tidak!
karena kau tidak merdeka...
menarik nafaspun dalam kuasanya,
layakkah kau memberi symbol cinta?.

17 Mei 2009

kontemplasi

: hari lahir

seperempat abad hidup masih penuh cela,
belum juga ku temukan matahari
yang mampu menundukkan alter ego,
meluap lahar.

tampar aku dengan kesadaran,
akan aku penjarakan ironi,
mengulang hari yang sama
dua puluh lima tahun lalu,
detik pembalikan dari kematian.

sudah seharusnyalah malam ini aku 'sujud',
mengangkat tangan dengan puji-pujian...
tapi tidak ku lakukan,
karena aku belum matang.

malam tetap bergulir,
akan ku hancurkan bintang,
agar pendar cahaya terangi lobang hati*
ku lihat bintang gentar...
berkelip lirih, lalu ku katakan "sekaranglah masamu padam".
aku terkesiap,
hah... aku belum bisa jadi penerang
sebelum masaku padam.

*meminjam istilah dari 'letto band'

11 Mei 2009

benarkah kau buka?

:deja-vu

pukul tiga pagi ini aku terjaga,

coba terpejam untuk mengulang mimpi yang terbuang.

aah... berangan saja aku tak bisa.

platonik?

entah...

kususun rajutan benang asa

coba tembus tembok keangkuhan

ku hisap rokok batang pertama

hmm tergelitik dunia tertawa

congkak kubusungkan dada

walau ku tahu mengering telaga.

kau bilang pintu selalu terbuka,

entah dengan maksud apa?

ragu ku langkahkan,

haruskah ku turuni samudera?,

sekarang, ku selami kau maya!

7 Mei 2009

mati rasa

: jawaban atas "Tak Tahu"

sore ini hujan turun,
melebur jadi satu dengan aspal jalanan
melarut bersama debu,
ku hisap dalam rokokku
ku hembuskan gundah dari paru-paru melalui kerongkongan,
sesak, aku tercekat oleh egoku sendiri
makin membuncah...

satu-satu
hari berganti, daun mengering dan
matahari makin lapuk,
hari ini bumi telah berputar ratusan kali
poros bumi terasa begitu panas,
merambah setiap jengkal kebisuan

baru aku tahu makna matamu,
setelah lama terus menerka...
mengapa kau ketuk waktu itu?
kalau saja berkata-kata
sudah sejak lama kubunuh rasa
cukuplah aku meraba-raba,
mulai detik ini!
namamu sudah tercerabut dari akarnya.

5 Mei 2009

Untukmu Perempuan


Aku datang tanpa mengetuk
Bukan aku tak santun
Tapi pintumu yang terlalu terbuka
Dengan sengaja aku mencoba menyelinap
Mencari sesuatu yang tersembunyi

Aku melihat ia berlari
Mengejar mimpi-mimpi yang mungkin lebih berarti
Sembari berpaling
Menatap hidup yang pernah ia jajaki

Seperti bidadari yang tersesat
Dalam kepalsuan
Di lorong-lorong Jakarta
Bersama laki-laki kecil kumal mencibir sinis pada dunia

Perempuan itu, Bidadari dan Kecoa
Hidup dalam satu wadah kumuh.
Ia berdiri, dan sesekali jiwanya meraung
Bersama perempuan tua ia menanti
Keindahan imaji
Hadir dalam cawan Kehidupan.


(puisi ini di tulis Yans A. kawan FB, setelah baca blog aku, makasih ya)