21 Mei 2008

Menjelang seperempat abad usiaku

hari cerah, udara pagi sangat segar
tapi, aku masih pusing...
mumet,... nyut - nyutan rasanya kepala ini
nasib skripsi masih merangkak
makin bertambah usia makin banyak alpha

arrrgh.... pusing...

Mei 10 Tahun Lalu

Gelap dan kelam,
Aku berusaha bangkit mengais - ngais tanah basah
sesaat tercium bau anyir,
terdengar lolongan anjing menyalang berahi...
ku tegakkan punggung rapuh
mengusap darah dikening,
terpicing - picing aku menatap dalam gelap.


Aku raba tubuh ini dengan muak,
jeritan, kesakitan, makian dan ejekan
satu - persatu melintas dalam kepala,
"itulah akibat ketidak becusan menjaga vagina"
kata demi kata bagai hakim berpalu gada
aku terhuyung kebelakang
kupejemkan dan kututup telinga...
terkutuk...!
terkutuk... kalian semua...!


Aku diam dalam gemuruh
"apakah aku pendosa besar, jika demikian adanya
salibkan aku ya Tuhan"
jilat dan lumatkan tubuh ini dalam api neraka-mu
seperti janji - janji yang telah terpeta dalam kitab-mu


sesakan nerakamu dengan jenisku
agar aku 'memenuhi takdirku'

1 Mei 2008

"Aku dan Saya"

Tuhanku, adalah akal yang maha tinggi derajatnya. Eeit... jangan jangan salah menerka ya, yang aku maksud adalah bahwa Tuhan itu merupakan zat atau energi akal maha tinggi - intelegensi tak terbatas-. bagi Tuhan bukanlah hal yang sukar untuk menciptakan dunia atau kehidupan dalam sebuah telur.

kita sebagai mahluk Tuhan terbentuk dari energi. Prinsip energi sendirikan tidak dapat diciptakan (kecuali oleh Tuhan) dan tidak dapat dimusnahkan, hanya dapat bergerak dan berubah wujud. sudah sepantasnyalah kita sebagai mahluk Tuhan yang terbentuk dari energi dan mendapat bonus otak dengan akalnya, seharusnya mampu mengendalikan energi semaksimal ungkin.

Jangan pernah biarkan diri kita merasa rendah dari orang lain, karena pada prinsipnya kita dengan mahluk lain adalah sama tidak ada yang lebih rendah ataupun lebih tinggi.

Kita, manusia mahluk sosial yang mempunyai kesamaan dan terikat satu sama lain karena kita dicipta oleh Tuhan dari "adonan" yang sama. Kita mempunyai benang penghubung nurani yang pastinya semua orang juga telah dilengkapi perangkap tersebut oleh Tuhan.

Jangan sekali - kali kita "mencubit" orang lain, karena pada hakekatnya "cubitan" tersebut akan kembali memantul pada kita, ya karena itu tadi bahwa kita mempunyai benang penghubung nurani. Kita tidak perlu menjadi orang yang baik agar tidak menyakiti sesama, seperti penokohan Jamie dalam a walk to remember, yang kita perlukan hanyalah sikap pengertian dan saling menghormati hak - hak orang lain. itu saja! ya... itu saja sudah lebih dari cukup karena pada dasarnya kita manusia, bukan malaikat yang memang "diprogramkan" demikian oleh Tuhan.

Ingat pesan tulisan pada batu berukir emerald (3000 sm), "seperti diatas, begitu juga dibawah. Seperti didalam, begitu juga diluar" nah... dengan kita mengingat prinsip tersebut bahwa pada hakekatnya kita satu kesatuan, segala sesuatu yang kita perbuat akan berdampak pada kita dan sekitarnya, maka marilah kita menjadi manusia yang menghormati diri sendiri dan menghormati orang lain.