Tampilkan postingan dengan label jakartaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakartaku. Tampilkan semua postingan

7 Jun 2010

pertarungan




Riuh... gaduh,
Orang-orang dengan intelektual berkelakar,
Menguap...
Membaui ruangan

Suara-suara, tawa-tawa, teriakan-teriakan
Genderang perang ditabuh,
Ludah terlontar tanamkan kekuasaan,
Toleransi alat lupa kesalahan,
Sekutu, lawan
Tumpah jadi satu, saling berjabatangan

25 Apr 2009

ku lihat

aku lihat perempuan-perempuan kecil bersolek,

dengan topeng dewasa,

ketika aku tidak tahu jawabnya,

aku harus bertanya pada siapa?

katika kulihat laki-laki kecil bertopeng pria dewasa,

jadi tulang punggung atau memeras sesama,

aku tak tahu jawabnya,

aku harus bertanya pada siapa?,

ketika satu orang menghabiskan puluhan juta, untuk laundry...

karena otaknya digunakan untuk memikirkan

perut kosong jutaan manusia,

aku sanksi, aku bertanya pada siapa?,

ketika tuan yang terhormat, pembuat 'peraturan'

berteriak minta dilebihkan jajan,

sedangkan jajan tuan cukup untuk menghidupi

sepuluh kepala keluarga,

aku keberatan!,

aku harus bertanya pada siapa?

ketika tuan pembuat 'peraturan' bertanya,

mengapa nasib mereka tidak berubah,

aku harus menjawab apa?.

(aku masih belum tahu judul yang cocok, semoga kawan-kawan sudi memberikan sumbang saran pemikirannya untuk judul puisiku ini, terimakasih)

20 Apr 2009

laki-laki kecil

lorong-lorong gelap Jakarta
paradoks bersetubuh dengan kepalsuan,
tangan-tangan menggapai,
manusia, anjing, kucing, tikus dan kecoa hidup
dalam satu wadah - kumuh.

debu saling silang dengan asap kendaraan,
mereka berupaya saling menunjukan taring,
pada celah gang buntu,
laki-laki kecil kumal mencibir sinis pada dunia,
"aku hanya butuh lem ini!"

mengapa hitam harus kelam?
dan putih terlalu jijik membagi ruang,
laki-laki kecil makin larut,
kini telah berselingkuh...
kedua tangan mengelus diantara selangkangan
"sudah cukup, jangan katakan aku tidak bermoral,
aku tidak merugikan kalian!".

15 Apr 2009

senja

Senja kelam melumat wajah kota Jakarta,
Jakarta yang renta makin tergopoh,
dalam rangkakan arus globalisasi.

Oh Jakarta...
hapuslah peluhmu,
lihatlah ke bawah,
kaum papa alas kakimu.

Jakarta,
kau tidak akan pernah merasakan,
panas telapak kaki tersengat aspal jalanan,
sakit yg menusuk daging.

lihatlah wajahmu memucat,
mendung hitam menggantung,
parasmu tak seelok dulu,
sudahlah...
obatilah dulu luka-lukamu.

13 Apr 2009

'jelangkung'

jelangkung...jelangkung
aku bertanya padamu,
disini ada pesta
ini pesta siapa?
pesta rakyat
atau pesta demokrasi.

jelangkung...jelangkung
tolong jawablah!
euforia dimana-mana.
kekecewaan menggantung di udara,
kekerasan tak terelakan
kecurangan terbungkus rapat.

jelangkung...jelangkung
apakah kau tahu?
yang menang menepuk dada,
yang kalah merasa terhina,
tak jarang yang masuk rumah sakit jiwa...

jelangkung...jelangkung
jawablah!

8 Mar 2009

hanya masalah waktu

aku dan kamu terpisah oleh selembar benang,

aku di jalanan,

kamu di senayan.

merah mata tak lagi air, tapi darah,

ku peluk tubuh menggigil upik,

"pa, botol isi beras, yang buat ngamen

jatuh di jalan waktu razia"

aku asah pisau - tajam

ku mainkan bayang wajah yang terpantul dari kilatnya,

muak makin menohok.

kamu busai bibir seharum gula-gula,

kamu buat masalah mudah, menjadi

rumit dengan birokrasi,

kamu sulap perkara tidak pernah ada,

kamu berpidato tanpa cela.

aku resah menunggu saatku,

waktu dimana Tuhan pertemukan

antara aku dan kamu,

bergetar tubuh ini terasa nikmat,

saat pisauku menancap lehermu.

17 Feb 2009

Untuk Upik

laki-laki usia 40 tahun,
pagi ini tebangun dan bergegas,
rambutnya klimis, setrika baju terlihat licin,
pagi ini bergegas dengan mantap...

siang hari masih berkutat dengan rutinitas,
lupa waktu,
rambut laki-laki usia 40 tahun tidak klimis lagi,
setrikaan celana terlihat lecek,
jam makan siang telah tergesa
lapar tidak dirasa,
"aah nasi bebek ini, untuk Upik saja" gumamnya.

matahari sedikit bergeser,
sinarnya mulai bersahabat,
laki-laki usia 40 tahun sedikit sumringah...
"Istriku aku pulang, aku rindu masakanmu,
biarlah nasi bebek ini untuk Upik".

10 Des 2008

makan siang

dua lelaki kumal duduk di bantar kali
sekonyong-konyong memarkir gerobak kardus-kardusnya
kepala menyandar dipohon
tangan kiri mengipas lelah
tangan kanan menyuap makanan

bercengkrama sambil terus menyuap
dibarengi aliran sungai keruh
pekat...
ah... makanan ini tetap enak
walaupun sedikit keras,
sesekali diteguk air dari botol plastik

tetap tersenyum
walau hati meringis,
Dulah membuka-buka buku gambar yang bertumpuk
dengan kardus bekas,
ah, aku juga pernah seperti ini!....
sambil melempar buku gambar lusuh ke muka Darno

Utan kayu, 09 Des'08

21 Nov 2008

faksi

adalah harta yang begitu dekat denganku
melekat erat,
seperti tulang berlapis daging yang terlindung kulit
sukar dilepas,
bersatu padu, saling membutuhkan

adalah suatu persekutuan yang kuat mengikat,
teriak dalam lubang dalam!
dengan mengusung kepentingan,
fanatik dan antipati

tidak!... semuanya lawan!
mereka berseberangan jalan,
tidak!... mereka tidak sepaham, kawan!
bukan satu perjuangan!

adalah derajat mereka lebih rendah, kawan!
status mereka murahan, anti kemanusiaan.
mereka etnosentris kawan dan itu tidak baik,
urusan mereka murahan!

ayolah kawan!
jangan buang tenagamu untuk urusan rendahan,
mari kita bersatu dalam satu issue!


"aah mereka berkata lantang
karena berkepentingan"