aku tersesat pada suatu peradaban
sopan, malas dan tanpa irama dengan moral kental
mati-matian coba selami,
lupa hiraukan pedih kaki,
berkali-kali terkoyak hati.
mampukah pijakan kaki?
sementara aku tak mampu beradaptasi,
lelah sudah kukenakan dua jatidiri
Tuhan,
apakah aku harus pergi?
ataukah memperdalam luka hati
yang terbui
di shubuh ini,
terpekur mengutuk diri...
buntu membawa hati.
Tampilkan postingan dengan label my life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my life. Tampilkan semua postingan
13 Okt 2009
27 Sep 2009
7 Mei 2009
mati rasa
: jawaban atas "Tak Tahu"
sore ini hujan turun,
melebur jadi satu dengan aspal jalanan
melarut bersama debu,
ku hisap dalam rokokku
ku hembuskan gundah dari paru-paru melalui kerongkongan,
sesak, aku tercekat oleh egoku sendiri
makin membuncah...
satu-satu
hari berganti, daun mengering dan
matahari makin lapuk,
hari ini bumi telah berputar ratusan kali
poros bumi terasa begitu panas,
merambah setiap jengkal kebisuan
baru aku tahu makna matamu,
setelah lama terus menerka...
mengapa kau ketuk waktu itu?
kalau saja berkata-kata
sudah sejak lama kubunuh rasa
cukuplah aku meraba-raba,
mulai detik ini!
namamu sudah tercerabut dari akarnya.
sore ini hujan turun,
melebur jadi satu dengan aspal jalanan
melarut bersama debu,
ku hisap dalam rokokku
ku hembuskan gundah dari paru-paru melalui kerongkongan,
sesak, aku tercekat oleh egoku sendiri
makin membuncah...
satu-satu
hari berganti, daun mengering dan
matahari makin lapuk,
hari ini bumi telah berputar ratusan kali
poros bumi terasa begitu panas,
merambah setiap jengkal kebisuan
baru aku tahu makna matamu,
setelah lama terus menerka...
mengapa kau ketuk waktu itu?
kalau saja berkata-kata
sudah sejak lama kubunuh rasa
cukuplah aku meraba-raba,
mulai detik ini!
namamu sudah tercerabut dari akarnya.
6 Mar 2009
tak tahu
: Kamu
kemarin, ku lihat awan putih berarak dilangit
angin sore bertiup sejuk,... bersahabat.
burung bercicit cita
hari ini, hujan turun rintik,
air jatuh lukiskan senyum,
disambut mentari perlahan menghangat,
cahaya perak guratkan harap.
detik ini, aku duduk didepanmu,
ku sentuh lenganmu,
coba menangkap makna matamu,...
tetap aku tak tahu,
apakah hatimu yang bicara padaku.
27 Feb 2009
lis ...
lis...
entah setan apa yang berkelebat masuk,
menggelitik ruang hampa,
tiba-tiba sakit menusuk senyum
aku tak tahu dari mana arah serangan
bayangmu berkelebat,
aku pikir hanya bayang-bayang imajiku...
yang membentuk asap ragamu,
ooh... tidak ini boneka imajiner ciptaanku.
lis...
kau tahu, seperti apa aku sekarang?
ah... sudahlah itu tak ada untungnya buatmu...
lis...
detik ini, aku bercumbu dengan imajinermu,
merinding, saat kau bilang "cukup kita yang tahu",
dan apa jawabku... aku hanya mengangguk setuju,
entah mengapa tubuhku meringan,
aku dan kamu makin melayang,
tiba-tiba palu godam menghantam bayang...
lis...
mengapa nin ada dipelukmu...
apa kau mengujiku?
tak perlu ragu, untuk saat ini aku sayang kamu,
lis ... mengapa kau mengulum nin dengan cara yang sama seperti mengulumku,
dan haruskah nin menggigit lehermu...
lis... kau tahu apa yang harus aku lakukan?,
aku memaafkanmu.
nin sandiwara apa yang kau mainkan,
hatiku sakit, walau tak berdarah.
lis... aku masih mau memaafkanmu,
aku ingat pesanmu "cukup kita yang tahu"
lis... ragamu makin melarut,
menyatu dalam labirin tanpa sekat,
kau tahu?
lima bulan aku masih menunggu,
berharap kau merujuk rayu.
lis...
susah payah ku patri asa,
sudahlah, lima bulan terlalu lama bagiku untuk menunggu!
usahlah kau merenda harap,
terlalu lama rasa ini berkarat,
lis... maaf, cumbumu tak mampu menjerat!.
perlu keberanian aku tulis pengakuan ini, memang bodoh... but thank.
Jakarta, Juli 2008.
entah setan apa yang berkelebat masuk,
menggelitik ruang hampa,
tiba-tiba sakit menusuk senyum
aku tak tahu dari mana arah serangan
bayangmu berkelebat,
aku pikir hanya bayang-bayang imajiku...
yang membentuk asap ragamu,
ooh... tidak ini boneka imajiner ciptaanku.
lis...
kau tahu, seperti apa aku sekarang?
ah... sudahlah itu tak ada untungnya buatmu...
lis...
detik ini, aku bercumbu dengan imajinermu,
merinding, saat kau bilang "cukup kita yang tahu",
dan apa jawabku... aku hanya mengangguk setuju,
entah mengapa tubuhku meringan,
aku dan kamu makin melayang,
tiba-tiba palu godam menghantam bayang...
lis...
mengapa nin ada dipelukmu...
apa kau mengujiku?
tak perlu ragu, untuk saat ini aku sayang kamu,
lis ... mengapa kau mengulum nin dengan cara yang sama seperti mengulumku,
dan haruskah nin menggigit lehermu...
lis... kau tahu apa yang harus aku lakukan?,
aku memaafkanmu.
nin sandiwara apa yang kau mainkan,
hatiku sakit, walau tak berdarah.
lis... aku masih mau memaafkanmu,
aku ingat pesanmu "cukup kita yang tahu"
lis... ragamu makin melarut,
menyatu dalam labirin tanpa sekat,
kau tahu?
lima bulan aku masih menunggu,
berharap kau merujuk rayu.
lis...
susah payah ku patri asa,
sudahlah, lima bulan terlalu lama bagiku untuk menunggu!
usahlah kau merenda harap,
terlalu lama rasa ini berkarat,
lis... maaf, cumbumu tak mampu menjerat!.
perlu keberanian aku tulis pengakuan ini, memang bodoh... but thank.
Jakarta, Juli 2008.
14 Jan 2009
kiri
ibu, engkau ajarkan padakau kanan,
engkau ajarkan padaku moral,
engkau juga memberiku pengayoman,
tak luput kau ajarkan aku kebenaran.
aku bertumbuh,
kau makin matang...
tembokmu tak mampu menghalang,
aku bukan engkau, dan engkau bukan aku, ibu.
aku tertarik pada kiri,
aku terus mencumbuinya,
aku makin tergila.
dari kiri aku belajar sesama,
dari kiri pula ku menghormati manusia,
kini aku belajar berkata,
tidak!
ibu, maafkan aku...
aku tidakmencintai kananmu lagi,
namun dari kiriku aku tetap menyayangimu
dengan kiriku,
aku berterimakasih padamu
ibu,
terimaksih...
engkau ajarkan padaku moral,
engkau juga memberiku pengayoman,
tak luput kau ajarkan aku kebenaran.
aku bertumbuh,
kau makin matang...
tembokmu tak mampu menghalang,
aku bukan engkau, dan engkau bukan aku, ibu.
aku tertarik pada kiri,
aku terus mencumbuinya,
aku makin tergila.
dari kiri aku belajar sesama,
dari kiri pula ku menghormati manusia,
kini aku belajar berkata,
tidak!
ibu, maafkan aku...
aku tidakmencintai kananmu lagi,
namun dari kiriku aku tetap menyayangimu
dengan kiriku,
aku berterimakasih padamu
ibu,
terimaksih...
24 Des 2008
aku menemukan-MU
Tuhan...
aku menemukanmu dalam penjara ketakutanku,
aku terus berlari kesetanan melesat dalam kabut hitam,
menerobos batas-batas kemampuan diri.
aku terpenjara dalam takut,
buntu dalam bertindak,
aku mulai goyah dalam bergerak.
aku tunduk dengan kenyataan,
aku tidak mapu bertahan...
inikah batas limit kemampuanku,
detik-detik dalam terpuruk,
menggelosor ke lantai, lunglai...
hilang daya dan upaya,
logika tak mampu mencerna,
aku oleng dalam nahkodaku!
terpuruk dalam ketidakmampuanku,
dalam isak ternyata aku menemukan-MU,
dalam penjara hati yang berkarat.
dalam ketidak berdayaan aku mulai memohon pada-MU,
aku tak mampu menanggung beban,
disitu aku mulai mencari sosok yang lebih besar untuk berlindung.
Tuhan...
aku menemukan-Mu dalam kerapuhan,
dan hidupku ada di ujung jari-Mu,
aku menemukan-Mu bukan dalam rumah-Mu.
Rawamangun, 22 Desember 2008
aku menemukanmu dalam penjara ketakutanku,
aku terus berlari kesetanan melesat dalam kabut hitam,
menerobos batas-batas kemampuan diri.
aku terpenjara dalam takut,
buntu dalam bertindak,
aku mulai goyah dalam bergerak.
aku tunduk dengan kenyataan,
aku tidak mapu bertahan...
inikah batas limit kemampuanku,
detik-detik dalam terpuruk,
menggelosor ke lantai, lunglai...
hilang daya dan upaya,
logika tak mampu mencerna,
aku oleng dalam nahkodaku!
terpuruk dalam ketidakmampuanku,
dalam isak ternyata aku menemukan-MU,
dalam penjara hati yang berkarat.
dalam ketidak berdayaan aku mulai memohon pada-MU,
aku tak mampu menanggung beban,
disitu aku mulai mencari sosok yang lebih besar untuk berlindung.
Tuhan...
aku menemukan-Mu dalam kerapuhan,
dan hidupku ada di ujung jari-Mu,
aku menemukan-Mu bukan dalam rumah-Mu.
Rawamangun, 22 Desember 2008
21 Nov 2008
shelter-halte
kali pertama aku tersenyum tanpa terpaksa,
saat kulihat pemilik wajah panik di seberang halte
kedua kalinya aku tersenyum, juga tanpa terpaksa
ketika mata tak pandai berdusta
berapa waktu kau butuhkan untuk menjangkau asa?
yang aku tahu,
kau berusaha sewajarnya
kau berusaha 'sederhana'...
aku tetap berpura tak tahu apa?
sayang!
perjalanan begitu singkat,
terlalu sesak kerongkongan untuk berucap
aku benci waktu berlalu cepat.
sept, 08
saat kulihat pemilik wajah panik di seberang halte
kedua kalinya aku tersenyum, juga tanpa terpaksa
ketika mata tak pandai berdusta
berapa waktu kau butuhkan untuk menjangkau asa?
yang aku tahu,
kau berusaha sewajarnya
kau berusaha 'sederhana'...
aku tetap berpura tak tahu apa?
sayang!
perjalanan begitu singkat,
terlalu sesak kerongkongan untuk berucap
aku benci waktu berlalu cepat.
sept, 08
23 Sep 2008
dan tiba - tiba,
kenapa datang tiba - tiba
menampar begitu saja
aku sendiri tidak tahu arahnya
tapi sungguh rasanya begitu menyulitkan
bagai dua sisi mata uang
bahagia dan bimbang
aku ikuti rasaku
tapi begitu jauh rasanya aku dekap
berkabut dan menghilang
aku tahan rasaku
sungguh muak dan menyakitkan
mencekik sungguh menyesakkan
aku pejamkan mata dalam sadar
hidup dalam khayal
sungguh aku sadar dalam ketidaksadaran
aku tahu persis tak benar
otak reptilku tak mau kehilangan
tuhan...
aku benci dalam ketidakpastian
djakarta, 9 sepr' 08
menampar begitu saja
aku sendiri tidak tahu arahnya
tapi sungguh rasanya begitu menyulitkan
bagai dua sisi mata uang
bahagia dan bimbang
aku ikuti rasaku
tapi begitu jauh rasanya aku dekap
berkabut dan menghilang
aku tahan rasaku
sungguh muak dan menyakitkan
mencekik sungguh menyesakkan
aku pejamkan mata dalam sadar
hidup dalam khayal
sungguh aku sadar dalam ketidaksadaran
aku tahu persis tak benar
otak reptilku tak mau kehilangan
tuhan...
aku benci dalam ketidakpastian
djakarta, 9 sepr' 08
23 Agu 2008
Takut
Malam larut dan lapuk
bukan maya,
aku tlah kehilangan matahariku
disaat ku menciut
Lacur...
matahari belum rampung aku pahat,
tetap harus taat
tak kuasa menghujat
aku dalam gelap.
bukan maya,
aku tlah kehilangan matahariku
disaat ku menciut
Lacur...
matahari belum rampung aku pahat,
tetap harus taat
tak kuasa menghujat
aku dalam gelap.
22 Agu 2008
Batas
Ku celupkan kuas dibuih laut
untuk melukis gambar laut,
samar terlihat nelayan menyulam jaring,
pasir menghampar luas lapang.
Ku hibur mentari yang meringis tenggelam
cahaya peraknya nyata menyayat
resahku makin tak menentu
ku lihat jejakku telah berlalu
untuk melukis gambar laut,
samar terlihat nelayan menyulam jaring,
pasir menghampar luas lapang.
Ku hibur mentari yang meringis tenggelam
cahaya peraknya nyata menyayat
resahku makin tak menentu
ku lihat jejakku telah berlalu
13 Jul 2008
Sendiri
Aku diam dalam termangu,
coba raih asa dalam ketiadaan
aku lupa kapan terakhir kali tertawa
akupun lupa kapan terakhir kali
menangis dipangkuan bunda
Aku terjatuh, bangun dan terjatuh lagi
sampai sekarang masih terasa sakitnya
aku tak tahu apakah aku terluka?,
yang tersisa hanya hampa...
Ingin aku meratap dalam tangis
tapi aku menangis untuk apa?
Lelah kaki ini terus berlari
aku berhenti sejenak lalu berjalan
rasanya semua sia - sia
toh jejak kakiku terhapus
sapuan angin
aku berjibaku dalam sendiri.
coba raih asa dalam ketiadaan
aku lupa kapan terakhir kali tertawa
akupun lupa kapan terakhir kali
menangis dipangkuan bunda
Aku terjatuh, bangun dan terjatuh lagi
sampai sekarang masih terasa sakitnya
aku tak tahu apakah aku terluka?,
yang tersisa hanya hampa...
Ingin aku meratap dalam tangis
tapi aku menangis untuk apa?
Lelah kaki ini terus berlari
aku berhenti sejenak lalu berjalan
rasanya semua sia - sia
toh jejak kakiku terhapus
sapuan angin
aku berjibaku dalam sendiri.
5 Jun 2008
kosong
aku bangun dengan enggan
terjebak dengan rutinitas hidup yang membingungkan
ku tersenyum pada udara pagi yang panas
berharap bersama asap polusi
engkau membalas senyumku,
ku sapa hujan yang tak jadi datang
sambil terus berharap "dia" menerima
isyarat damaiku
aku bernyanyi dalam sepi
berteriak dalam diam
manghiba dalam ratapan.
ku hitung mundur hari yang telah lalu
tapi, tetap saja sia - sia
tidak mengubah segala yang ada...
remuk redam raga ini,
aku terus menghacurkan kepingan itu...
ku pejamkan mata, menyulut suatu fatamorgana
ku lihat dian-ku tetap menyala
membakar kepingan raga
terjebak dengan rutinitas hidup yang membingungkan
ku tersenyum pada udara pagi yang panas
berharap bersama asap polusi
engkau membalas senyumku,
ku sapa hujan yang tak jadi datang
sambil terus berharap "dia" menerima
isyarat damaiku
aku bernyanyi dalam sepi
berteriak dalam diam
manghiba dalam ratapan.
ku hitung mundur hari yang telah lalu
tapi, tetap saja sia - sia
tidak mengubah segala yang ada...
remuk redam raga ini,
aku terus menghacurkan kepingan itu...
ku pejamkan mata, menyulut suatu fatamorgana
ku lihat dian-ku tetap menyala
membakar kepingan raga
21 Mei 2008
Menjelang seperempat abad usiaku
hari cerah, udara pagi sangat segar
tapi, aku masih pusing...
mumet,... nyut - nyutan rasanya kepala ini
nasib skripsi masih merangkak
makin bertambah usia makin banyak alpha
arrrgh.... pusing...
tapi, aku masih pusing...
mumet,... nyut - nyutan rasanya kepala ini
nasib skripsi masih merangkak
makin bertambah usia makin banyak alpha
arrrgh.... pusing...
Langganan:
Postingan (Atom)